Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki,( 67, 834 / 883-901)
SEJARAH PAUS

Ensiklik & Surat Paus

Dokumen KV 2

No:
masukkan no. yang dikehendaki - 0 (nol) untuk melihat daftar isi -(catatan kaki lihat versi Cetak)

LITURGI - Melihat Ritual Misa

Melihat Ritual Misa
1. Melihat struktur

  • Ada dua bagian utama: Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi, dan dua bagian pendamping: Ritus Pembuka dan Ritus Penutup.
  • Dalam Misa yang normal, bagian utama tak boleh ditiadakan atau dipisahkan, sementara bagian pendamping menyertai mereka
  • Dalam hal Misa yang digabung dengan unsur liturgis lain (mis. Ibadat Harian, Misa Arwah dan Pemakaman, dsb) dua bagian utama tetap dipertahankan, sementara bagian pendamping dapat diganti, dikurangi atau ditambah dengan unsur liturgis lainnya itu sesuai dengan kaidah yang berlaku.
  • Jika dijumlah, Liturgi Ekaristi mengandung paling banyak ritus, kemudian Liturgi Sabda, baru Ritus Pembuka, dan Ritus Penutup yang paling miskin. Ritual dalam Liturgi Ekaristi amat dominan, karena di situlah puncak perayaan Ekaristi terjadi.

Dinamika Menuju Puncak Perayaan Ekaristi

2. Mencermati ritual

            Satu per satu ritus perlu diperhatikan. Untuk mudahnya, kita pahami di sini bahwa ritual adalah rangkaian ritus-ritus. Jadi, satuan ritus tertentu mempunyai nama sebagai ritual tersendiri.
Ritus-ritusnya: berdiri, berarak, menyanyi,
            mendupai, membungkuk/berlutut,
            mengecup
Biasanya ritual yang penting atau punya bobot lebih, diberi perhatian khusus. Ritual itu diberi sejumlah unsur atau ritus yang tidak sekedar satu-dua. Dengan demikian, durasi waktu yang dibutuhkan juga bisa menggambarkan bagaimana seharusnya ritual itu diperlakukan.
Misalnya, Ritual Bacaan Injil:
            untuk menampilkan bahwa bacaan Injil lebih penting daripada bacaan pertama atau kedua, maka sebelum, ketika, dan setelah membawakan Injil ada sejumlah ritus mengisinya (ada Bait Pengantar Injil, ajakan, tanda salib, pendupaan, dibacakan/dinyanyikan, dikecup).

Hal-hal ini akan mudah dilakukan jika kita pun memahami makna dan tujuan setiap ritualnya. Ada beberapa ritual yang mempunyai alternatif atau bisa diganti, yang tentunya punya makna dan maksud yang sama dan selaras (mis. ritus tobat bisa diganti percikan air suci, DSA tematis, ritus damai, dsb).

3. Membedakan jenis-jenis Misa
Setiap jenis Misa mensyaratkan aturan-aturan yang bisa berbeda, tidak selalu sama pada setiap bagiannya. Kita perlu membedakannya berdasarkan beberapa hal:

      1. Berdasarkan masa liturgi: Adven, Natal, Prapaskah, Paskah, Biasa.
      2. Berdasarkan tingkat perayaan: Hari Raya (Solemnitas, 1.cl.), Pesta (Festum, 2.cl.), Peringatan Wajib (Memoria obligatoria, Pw), Peringatan Fakultatif (Memoria ad libitum, PFak), Hari Biasa (De ea).
      3. Berdasarkan bentuk atau rumus Misa: Misa ritual (= dengan sakramen lain), misa arwah, misa konselebrasi, misa hanya dengan satu pelayan.
 

4. Menyanyikan Misa

  1. Ini sekedar upaya untuk memperlakukan segala aturan, makna, maksud yang terkandung dalam Misa. Kita mau keluar dari kebiasaan memperlakukan Misa yang hanya dibaca, tanpa nyanyian sama-sekali, bahkan tanpa usaha sedikit pun untuk membuat Misa terasa hidup, menarik, terpetik buah-buahnya.
  2. Mengubah kebiasaan singing at Mass menjadi singing the Mass  (= liturgy).

Pertama, ungkapan menyanyikan Misa jangan dimengerti secara hurufiah, sehingga semua bagian dianggap harus dinyanyikan dengan aturan-aturan musikal segala. Menyanyikan Misa berarti membuat Misa ibaratnya suatu nyanyian, mungkin malah semacam “opera” atau pentas musikal yang tidak 100 % melulu nyanyian, di mana ada bagian yang dinyanyikan ada pula yang diucapkan, bahkan diperagakan atau malah diam, hening. Atau, lebih baik, Tata perayaan Misa kita lihat dulu sebagai layaknya suatu partitur atau teks nyanyian. Kunci atau nada dasarnya adalah berdasarkan jenis-jenis Misanya (Adven, Hari Raya, dsb).

Kedua, agak hurufiah, tapi tetap tidak lantas setiap bagian harus dinyanyikan. Prinsipnya, bagian-bagian yang maksudnya memang harus dinyanyikan, sebaiknya juga diperlakukan dengan semestinya. Hal ini tentu saja harus melirik makna dan fungsi nyanyian itu sendiri dalam Misa. Harus juga diketahui makna dan maksud ritualnya. Jadi, teks harus selaras dengan konteks. Nyanyian harus seiring dengan maksud ritualnya. Jika ritualnya menuntut perlakuan yang khusus, mungkin tak cukup hanya diiringi atau dibawakan dalam nyanyian, tapi juga dihiasi tata gerak atau bahkan tarian (mis. doksologi DSA, prosesi Kitab Injil, dsb).

 

1. Apa itu musik liturgi Gereja Katolik Roma?

MS 4
Musik liturgi:

  • Musik yang digubah untuk perayaan liturgi suci
  • Dari segi bentuknya memiliki suatu  bobot kudus tertentu
  • Kategori: Gregorian, polifoni suci, musik liturgi untuk organ/alat musik yang sah, musik liturgi rakyat.

Ciri khas musik liturgi sejati:

  • Bisa untuk paduan suara besar  atau kelompok koor kecil
  • Peluang untuk partisipasi aktif jemaat
  • Syair harus selaras dengan ajaran Katolik; ditimba dari Alkitab dan sumber-sumber liturgi.

2. Tujuan dan fungsi musik liturgi
MS  5 

  • Doa diungkapkan secara lebih menarik (dekoratif)
  • Misteri liturgi, yang sedari hakikatnya bersifat hirarkis dan jemaat, dinyatakan secara lebih jelas (diferensiatif)
  • Kesatuan hati dapat dicapai secara lebih berkat perpaduan suara (unitatif)
  • Hati lebih mudah dibangkitkan ke arah hal-hal surgawi berkat keindahan upacara kudus (transendental)
  • Seluruh perayaan dengan lebih jelas mempralambangkan liturgi surgawi yang dilaksanakan di kota suci Yerusalem baru (eskatologis).

MS  6

  • Pengaturan perayaan liturgis secara tepat menuntut pembagian yang tepat dan penampilan fungsi-fungsi tertentu
  • Bagian-bagian yang sedari hakikatnya menuntut nyanyian, hendaknya dinyanyikan dengan mempergunakan jenis serta bentuk musik yang selaras dengan corak khasnya.

3. Kriteria mutu untuk musik liturgi
MS  9

  • Diperhitungkan kemampuan mereka yang harus menyanyikannya
  • Sesuai dengan jiwa perayaan liturgis itu sendiri
  • Selaras dengan hakikat bagian setiap bagian dan tidak menghalangi partisipasi aktif dari umat.

MS  10

  • Selayaknya bentuk perayaan dan tingkat partisipasinya bervariasi sebanyak mungkin
  • Sesuai dengan kemeriahan pesta  dan keadaan umat yang hadir.

MS  11
Kemeriahan sejati liturgi:

  • Tidak tergantung semata-mata pada indahnya nyanyian atau bagusnya upacara
  • Tapi pada makna dan perayaan yang memperhitungkan keterpaduan perayaan liturgis dan pelaksanaan setiap bagian sesuai ciri-ciri khasnya
  • Bertentangan jika ada bagian yang dihilangkan, diubah, atau dibawakan dengan tidak semestinya.

4. Peran serta umat dalam musik liturgi
MS  13
            Perayaan-perayaan liturgis adalah perayaan seluruh Gereja: umat yang disatukan oleh uskup atau imam (=mereka memegang peranan khusus).
MS  15
            Umat menunaikan peranan liturgisnya dengan partisipasi penuh, sadar, dan aktif:

      • Secara batiniah
      • Secara lahiriah
      • Diajar juga untuk memadukan diri secara batin dengan apa yang dinyanyikan oleh petugas atau koor (= mendengarkan).
 

MS  16
Partisipasi aktif digalakkan lewat:

  • Aklamasi, jawaban terhadap salam imam/pembantunya, doa-doa litani, antifon, mazmur, ayat ulangan, madah, kidung
  • Bagian-bagian nyanyian yang menjadi hak mereka
  • Beberapa nyanyian umat dapat diserahkan pada koor saja asal umat tidak merasa dikucilkan.

MS  17
Umat perlu saat-saat hening:

  • Bukan sebagai orang asing atau penonton yang bisu
  • Disatukan secara lebih intim dalam misteri yang sedang dirayakan
  • Hayati keterbukaan hati yang mendalam (akan Sabda, doa, lagu).

MS  19

  • Koor perlu mendapat perhatian khusus
  • Bertugas membawakan secara tepat bagian-bagian yang dipercayakan kepadanya.

MS  24
            Pembinaan musik, liturgi, dan rohani yang memadai bagi anggota koor.

5. Alat  musik liturgi
MS  62
Manfaat:

  • Mengiringi lagu-lagu
  • Permainan instrumental tunggal.

SC  120 (~ MS 62)

  • Dalam Gereja Latin orgel pipa hendaknya dijunjung tinggi sebagai alat musik tradisional.
  • Alat musik lain dapat juga dipakai asal sesuai dan dapat disesuaikan dengan:
    • Fungsi kudusnya
    • Keanggunan gedung gereja, dan
    • membantu memantapkan liturgi.

MS  63
Untuk izin penggunaan perhitungkan:

  • Kebudayaan dan tradisi masing-masing bangsa
  • Alat musik yang menurut pendapat umum hanya cocok untuk musik sekular haruslah sama sekali dilarang penggunaannya untuk perayaan liturgis dan devosi umat
  • Memenuhi tuntutan perayaan liturgis
  • Menyemarakkan liturgi
  • Memantapkan jemaat.

MS  64
Pengunaan alat musik:

  • Dapat merupakan dukungan kepada para penyanyi
  • Memudahkan partisipasi umat
  • Menciptakan kesatuan hati yang mendalam antar jemaat
  • Bunyinya tak menenggelamkan suara para penyanyi (kata-kata harus bisa ditangkap)
  • Tak mengiringi bagian yang dibawakan imam/petugas (~ doa).

MS  65
            Dimainkan secara instrumental untuk Misa pada bagian: awal, sebelum imam sampai di altar, pada persiapan persembahan, pada komuni dan akhir perayaan.
MS  66
            Permainan secara instrumental tidak diizinkan dalam masa:  Adven, Prapaskah, Trihari Suci, dan dalam Ofisi/Misa Arwah.

II.  Unsur-unsur Musikal dalam Misa

  1. Perarakan Masuk
  2. Pernyataan Tobat - Kyrie
  3. Gloria/Kemuliaan
  4. Doa Pembuka
  5. Bacaan-bacaan dari Alkitab
  6. Mazmur Tanggapan
  7. Bait Pengantar Injil
  8. Pernyataan Iman
  9. Doa Umat
  10. Persiapan Persembahan
  11.   Doa Persiapan Persembahan
  12.   Prefasi - Sanctus
  13.   Doa Syukur Agung
  14.   Bapa Kami
  15.   Ritus Damai
  16.   Pemecahan Roti - Agnus Dei
  17.   Pembagian Komuni
  18.   Doa Sesudah Komuni
  19.   Berkat - Pengutusan
  20.   Perarakan Keluar

5. Memilih Nyanyian
untuk Misa
Nyanyian perlu dipilih dan disertakan untuk mengiringi Misa. Fungsi nyanyian itu sendiri dimengerti secara benar, tidak sekedar mengisi kekosongan atau menghiasi antara bagian Misa.

[A]Jenis-jenis nyanyian Misa

1. Aklamasi
            seruan atau pekik sukacita seluruh jemaat sebagai tanggapan atas sabda dan karya Allah.

      1. Bait Pengantar Injil  (Alleluia)
      2. Sanctus (Kudus) [ + prefasi oleh Imam ]
      3. Aklamasi Anamnesis [ + seruan/ajakan Imam ]
      4. Amin Meriah [ + doksologi DSA oleh Imam ]
      5. Doksologi “Bapa Kami “ [ + Doa Tuhan ]
 

2. Nyanyian Perarakan
            berkaitan dengan “menyambut” simbol kehadiran Kristus, meningkatkan kesadaran akan persekutuan, ada antifon khusus dalam Misale Romawi.

      1. Perarakan Masuk
      2. Perarakan Komuni
 

3. Mazmur Tanggapan
          menanggapi sabda Allah, selaras dengan tema bacaan Misa.

4. Nyanyian “Ordinarium (Baru)”
            pilihan lepas, kadang boleh diucapkan saja.

      1. Kyrie  (Tuhan, Kasihanilah Kami)
      2. Gloria  (Kemuliaan)
      3. Doa Tuhan “Bapa Kami”  [ + ajakan dan embolisme Imam serta doksologi Jemaat atau + tanpa embolisme ]
      4. Agnus Dei  (Anak Domba Allah): Pemecahan Roti
      5. Credo  (Aku Percaya)
 

5. Nyanyian Tambahan  
            tanpa tuntutan teks/ritus khusus boleh koor saja.

      1. Persiapan Persembahan
      2. Madah/Doa Syukur sesudah Komuni
      3. Penutup/Perarakan keluar
      4. Litani
 

[B] Memilih nyanyian menurut tingkat perayaan

  1. Hari Minggu/Hari Raya:  1, 2, 3, 4, 5 (semua dinyanyikan)
  2. Pesta:  1, 2, 3, 4 (kecuali 4 e), 5 (kecuali 5 b, d)
  3. Peringatan (Wajib/Fakultatif):  1, 2, 3, 5 (kecuali 5 c,d)
  4. Hari Biasa:  1 (kecuali 1 a), 3

C. H. Suryanugraha, OSC
(seijin Aegidius Eko Aldilanto O. Carm.)