Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki,( 67, 834 / 883-901)
SEJARAH PAUS

Ensiklik & Surat Paus

Dokumen KV 2

No:
masukkan no. yang dikehendaki - 0 (nol) untuk melihat daftar isi -(catatan kaki lihat versi Cetak)

KUASA KRISTUS DI BALIK PELAYANAN SAKRAMEN DAN SAKRAMENTALI

F.X. Didik Bagiyowinadi Pr

    Dalam tulisan ini saya hendak berbagi refleksi pengalaman akan kuasa Kristus di balik perayaan Sakramen dan Sakramentali yang dilayankan oleh para imam. Dalam perayaan liturgi itu terjadilah realitas keselamatan yang tak kelihatan, dimana rahmat dan kuasa Kristus dicurahkan. Kuasa Kristus yang dihadirkan dalam liturgi sedemikian dahsyat sehingga juga mampu mengalahkan pelbagai fenomena blackmagic. Para imam dapat menghadirkan kuasa Kristus melalui pelayanan sakramen dan sakramentali pertama-tama dan terutama karena Sakramen Imamat yang telah mereka terima, bukan karena kehebatan dan kesalehan pribadinya. Dan untuk mengawali refleksi ini, saya akan bertitik tolak dari kehidupan liturgi kita di Gereja Katolik Indonesia.

Bukan Sekedar Ritual Liturgi

    Kita menyadari dan mengupayakan apa yang diajarkan oleh Konsili Vatikan II, bahwa liturgi, secara khusus Sakramen Ekaristi, menjadi sumber dan puncak kehidupan orang Kristen maupun hidup menggereja (SC 10). Dan kesan saya, Gereja Katolik Indonesia pada umumnya cukup menaruh perhatian pada kesemarakan perayaan liturgi. Bahkan cukup banyak imam dan umat yang sangat menaruh perhatian pada detail-detail rubrik liturgi. Dan agaknya hal ini juga menjadi salah satu penekanan pendidikan liturgi di STFT Malang, sehingga jujur sebagai seorang imam – terkadang ada perasaan bersalah dalam hati manakala saya tidak "sempurna" mengikuti rubrik aturan liturgi yang telah digariskan, apalagi kalau sampai dikomentari dan dikritik umat!

    Bahkan soal menyanyikan lagu persembahan saja bisa menjadi polemik, ketika tidak ada perarakan persembahan. Padahal Lumen Gentium 34 dan syair lagu persembahan di Puji Syukur-Madah Bakti pun jelas-jelas bicara soal persembahan rohani: "Sebab semua karya, doa-doa, dan usaha kerasulan mereka [kaum beriman awam], hidup mereka selaku suami istri dan dalam keluarga, jerih payah mereka sehari-hari, istirahat bagi jiwa dan badan mereka, bila dijalankan dalam Roh, bahkan beban-beban hidup bila ditanggung dengan sabar, menjadi korban rohani, yang dengan perantaraan Yesus Kristus berkenan kepada Allah." Persembahan


Rubrik liturgi adalah petunjuk teknis tentang urutan dan sikap liturgis yang perlu dilakukan oleh imam dan umat saat mendoakan bagian-bagian liturgy, seperti dengan tangan membuka, tangan menengadah, sambil membungkuk, dll


    rohani yang dibawa dalam perayaan Ekaristi bukan soal kolekte, bunga-buah, apalagi rokok kesukaan romo paroki! Dalam misa harian yang tanpa kolekte pun tetap ada persembahan rohani! Ujung-ujungnya pemicu polemik lagu persembahan ini sebenarnya ketidaktepatan terjemahan PUMR no. 74 dari komisi liturgi KWI! Semoga saja, di endapan bawah sadar kita tidak tersisa paham animisme, dimana bila sajen dan perlengkapan ritualnya nggak komplet, khawatir dewanya ngamuk!

    Dari fenomena ini kita bisa melihat bagaimana ritual liturgi begitu mendapatkan penekanan, yang bisa jadi malahan menggeser apa yang paling mendasar dan dikehendaki Tuhan. Nabi Amos dengan tegas mengecam umat yang bersembunyi di balik kesemarakan liturgi dan mengabaikan apa yang paling mendasar, yakni keadilan dan kebenaran (lih. Am 5:22-24). Tuhan Yesus pun menegaskan bahwa yang terpenting itu bukan soal persembahan ataupun persepuluhan, tetapi jiwa Taurat itu sendiri, yakni keadilan, belas kasih, dan kesetiaan (Mat 23:23). Kita diingatkan untuk tidak jatuh pada sikap ritualistik dalam berliturgi dan melupakan makna liturgi sebagai perjumpaan dengan Tuhan dan sesama.

Dalam Liturgi: Ada Kenyataan Keselamatan yang Tak Kelihatan

    Manakala perhatian kita sangat berlebihan pada rubrik dan ritual yang kelihatan dari sakramen ini, bisa jadi kita justru melupakan sesuatu yang mendasar di balik sakramen itu sendiri. Menurut KGK 774, kata sacramentum memang lebih menonjolkan tanda kelihatan dari kenyataan keselamatan yang tidak kelihatan. Sementara untuk kenyataan keselamatan yang tak kelihatan itu, digunakan istilah mysterium. Sakramen itu bukan sekedar tanda yang kelihatan, tetapi "tanda dan sarana, yang olehnya Roh Kudus menyebarluaskan rahmat Kristus, yang adalah Kepala, di dalam Gereja, Tubuh-Nya." Melalui upacara sakramen yang bisa ditangkap indra, sesungguhnya Kristus sendiri hadir dan menyalurkan rahmat-Nya! Inilah sesuatu yang tak kelihatan dan bisa jadi kerap terabaikan manakala kita menaruh perhatian secara berlebihan pada ritual rubrik liturgi.

Anugerah Sakramen Imamat

    Melalui Sakramen Tahbisan Imamat, Tuhan berkenan menganugerahkan kuasa imamat sehingga seorang imam dapat bertindak in persona Christi Capitis (dalam pribadi Kristus sebagai Kepala jemaat) untuk kepentingan umat-Nya (bdk. KGK 1158, 1120, 1127). Ketika seorang imam memberikan absolusi dalam Sakramen Tobat, sesungguhnya Kristus sendiri yang mengampuni; pada saat imam mengkonsekrasikan roti dan anggur, Tuhan Yesus sendiri yang melakukannya. Dalam prinsip ex opere operato, keabsahan Sakramen - yang melalui-Nya Kristus menyalurkan rahmat-Nya - tidak tergantung pada kesucian pribadi sang imam (KGK 1128, 1584). Sungguh suatu kepercayaan besar yang dianugerahkan kepada kami para imam, sebagai pengemban karunia rohani yang sedemikian agung, sementara diri kami sendiri ibarat bejana tanah liat yang rapuh dan mudah pecah (lih. 2 Kor 4:1-15).


PUMR no 74 (Cetakan III, 2013) diterjemahkan: "Kalau tidak ada perarakan persembahan, tidak perlu ada nyanyian." Padahal teks latinnya: "Cantus potest semper ritus ad offeritorium sociare, etiam sine processione donis," yang semestinya diterjemahkan : "Nyanyian selalu dapat mengiringi ritus persiapan persembahan, bahkan juga bila tanpa perarakan bahan-bahan persembahan." Lih. Petrus M. Handoko,"Konsultasi Iman," dalam HIDUP edisi 7, tgl. 12 Februari 2017. Terjemahan yang salah menyebabkan polemik kehidupan liturgi di paroki dan sama sekali tidak memahami apa makna persembahan rohani dalam Ekaristi! Liturgi bukan sekedar urusan ritual.


    Selain wewenang merayakan beberapa sakramen, seorang imam juga diberi wewenang untuk melayani sakramentali. Sakramentali adalah "tanda-tanda suci, yang memiliki kemiripan dengan sakramen-sakramen, yang menandakan karunia-karunia rohani yang diperoleh berkat doa permohonan gereja" (KGK 1667). Sakramentali ini dimaksudkan untuk menguduskan jabatan gerejani tertentu (mis. Pemberkatan abas biara kontemplatif, pelantikan lector-akolit, pelantikan prodiakon), status hidup tertentu (kaul kebiaraan), aneka ragam keadaan hidup Kristen (mis. midodareni, pemberkatan ibu hamil, pemakaman, dan eksorsis) dan penggunaan benda-benda yang bermanfaat bagi manusia (pemberkatan gereja, benda-benda rohani, pemberkatan rumah, mobil, tempat usaha, benih, dsb) (KGK 1668).

Mengalami Kuasa Kristus melalui Sakramen

     Sekarang saya mau merefleksikan soal mysterium, yakni kenyataan keselamatan yang tidak kelihatan yang dicurahkan Tuhan melalui pelayanan imam dalam sakramen dan sakramentali. Bagaimana di balik pelayanan sakramen dan sakramentali yang bisa jadi terasa biasa don monoton itu, sebenarnya ada realitas tak kelihatan dimana Tuhan menyalurkan rahmat keselamatan-Nya.

    Di sini harus saya tegaskan terlebih dahulu bahwa saya adalah salah satu imam yang biasa-biasa saja, tidak mendapatkan karunia "spektakuler" dari Tuhan (seperti penyembuhan, mukjizat, bernubuat, menafsirkan bahasa roh, bahkan "tidak bisa" berbahasa roh, lih 1 Kor 12-14), dan tidak pula memiliki kepekaan untuk melihat atau merasakan kehadiran fenomena yang tak kelihatan. Saya tetap bisa tidur nyenyak ketika menginap di pastoran-pastoran yang konon katanya angker. Saya juga bukan imam yang gentur tapane karena doa dan matiraga saya standard saja, mengikuti kebiasaan Katolik pada umumnya, dan sama sekali tidak tertarik dengan ngelmu-ngelmu Kejawen.

    Sewaktu saya masih frater calon diakon, saya bergumul dengan sebuah pertanyaan: bagaimana bila kelak saya dihadapkan pada umat yang terkena fenomena blackmagic? Apakah menganggap hal itu nonsense dan omong kosong belaka, sementara yang bersangkutan sungguh menderita dan membutuhkan pertolongan? Atau membiarkan mereka lari ke orang-orang pintar lantaran tidak tahu bagaimana mesti menolong mereka? Atau melarang mereka lari ke orang-orang pintar; namun, bisakah saya memberikan solusi? Atau haruskah saya merujuk yang bersangkutan datang kepada romo-romo tertentu "yang dikenal" mendapatkan "karunia spektakuler" itu? Bisakah seorang romo yang biasa-biasa saja, yang telah diberi wewenang in persona Christi Capitis untuk pelayanan umat di paroki, membantu umat parokinya dengan segala pergumulan iman mereka, termasuk fenomena blackmagic? Itulah pergumulan saya sebelum ditahbiskan menjadi diakon.

    Saya menemukan sedikit insight dari pergumulan ini dalam matakuliah Imamat Ministerial. Dalam salah satu sessi kuliah kami mendengarkan sharing pengalaman Bapak Thomas, seorang umat dari Blitar yang mendapat karunia penyembuhan. Beliau menegaskan dan berpesan kepada kami, "Saya membantu umat yang sakit dengan mendoakan mereka dan Tuhan berkenan menganugerahkan kesembuhan. Karena awam, doa saya sebenarnya ibarat menjahit dengan tangan. Tetapi para frater, kelak kalian akan ditahbiskan, karunia tahbisan itu ibarat orang diberi mesin jahit, sehingga hasilnya akan lebih banyak dan lebih rapi. Akan tetapi, meskipun diberi mesin jahit, kalau tidak pernah digunakan, ya tidak trampil." Bagi saya waktu itu, kata-kata Pak Thomas sekedar kata-kata untuk membesarkan hati dan memotivasi kami supaya tetap menapaki panggilan menuju imamat suci.

    Saya sendiri telah mengalami bagaimana kuasa Kristus melalui sakramen mampu mematahkan fenomena blackmagic. Saat kelas VI SD menjelang Ebtanas (1987), saya jatuh sakit tifus dan opname di rumah sakit. Mungkin panasnya tifus menyebabkan saya sampai meracau dan kondisi berlanjut sampai semingguan. Beberapa tetangga yang membezuk saya sampai mendatangkan "orang-orang pintar" mereka untuk menyembuhkan saya. Namun, tidak satu pun yang berhasil! Hingga akhirnya pada hari Minggu malam saya kemudian menerima Sakramen Pengurapan Orang Sakit dari alm Rm. A. Soetarto Pr dan Senin sorenya dibezuk dan didoakan oleh Rm. Matius Kamsiadji O.Carm yang kebetulan sedang cuti. Hari Selasa pagi saya baru sadarkan diri, seperti terbangun dari mimpi panjang. Dari pengalaman ini saya mengetahui seberapa level kemampuan "orang-orang pintar" itu dibandingkan dengan kuasa Kristus sendiri!

    Pada tahun 2001, sebagai frater S2, saya dan fr. Defri survey ke Gunung Kawi untuk persiapan penelitian Malam Jumat Legi yang akan kami bandingkan dengan Malam Jumat Legi di Pohsarang. Saat kami berkeliling, ada buah pohon dewandharu yang jatuh. Sesuatu yang sangat ditunggu-tunggu oleh para peziarah Gunung Kawi, sampai mereka rela berjaga dan melekan menanti jatuhnya buah atau daun pohon yang diyakini berasal dari tongkat mbah Junggo, salah satu prajurit Pangeran Diponegoro. Guide yang mengantar kami mengambil buah itu dan memberikannya kepada saya. Maka untuk kepentingan penelitian, saya terima saja dan mengikuti ritual yang dia sarankan, yakni mesti mengelilingi bangunan makam, berhenti di ketiga penjuru untuk menyampaikan intensi permohonan: jodoh, kekayaan, atau pangkat, dan kemudian memesan paket slametan sebagai ungkapan syukur. Lalu, saya diminta memakan buah dewandharu yang terasa manis itu; kemudian, bijinya mesti dibungkus dengan uang kertas dan disimpan di dompet. Tetapi tiga hari saja sudah ketlisut (hilang kelupaan menaruh), karena saya memang tidak perhatian dan tidak mempercayainya! Jadi, apa yang dicari-cari dan harapkan oleh banyak peziarah Gunung Kawi, justru saya dapatkan secara tidak sengaja. Tetapi hal itu saya buang begitu saja karena saya sudah mengenal dan mempercayai Kristus. St. Paulus pun berani meninggalkan kebanggaannya sebagai orang Farisi yang telah berusaha melakukan Taurat dengan sempurna untuk mendapatkan keselamatan, "Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus" (Flp 3:8).

    Usai ditahbiskan imam dan sebelum masuk paroki Blimbing (2002), saya mengikuti retret awal di Ngadireso. Dalam penutupan retret saya mendampingi Romo Michael Mulyo Hartomo O.Carm sebagai selebran utama. Misa berlangsung seperti biasanya. Usai Komuni dan doa penutup, diadakan perarakan Sakramen Mahakudus. Rm. Michael memegang monstran dan berjalan mengelilingi umat, saya berjalan di belakang beliau. Beberapa umat ada yang berjatuhan. Saya hanya melihatnya dengan penuh tanda tanya. Salah seorang ibu yang jatuh dan tidak sadarkan diri kemudian dibawa ke sakristi. Pada akhir prosesi itu, Romo Michael mendekatkan monstran itu kepada ibu yang tengah tidak sadarkan diri itu. Seketika ibu itu terbangun dan berteriak, "Panas! Panas!" Saya hanya menyaksikannya dengan rasa kagum dan heran.

Membantu Umat yang Terkena Fenomena Blackmagic

    Sebagai pastor muda di paroki Blimbing saya masih bergumul dengan pertanyaan saya sebelum tahbisan diakon: Apa yang harus saya lakukan untuk menolong umat yang terkena fenomena blackmagic, sementara saya ini hanya romo biasa-biasa saja dan juga tidak gentur tapane? Hampir dua tahun saya bergumul dengan pertanyaan itu, sampai kemudian menemukan jawabannya. Saya menemukan jawabannya setelah "menggunakan mesin jahit", yaitu kuasa tahbisan yang telah saya terima. Pada saat ada umat paroki yang datang berkonsultasi dan membawa persoalan fenomena blackmagic, saya hanya bisa menawarkan pelayanan sakramen-sakramentali, sesuatu yang bisa saya lakukan sebagai seorang imam. Apakah kemudian mereka menjadi sembuh atau tidak, bagi saya itu urusannya Tuhan Yesus; yang terpenting saya dan si pasien (dan keluarganya) berserah kepada Tuhan Yesus semata.

    Berikut ini akan saya kisahkan pengalaman pelayanan saya yang terbatas dalam membantu umat yang terkena fenomena blackmagic. Saya yakin banyak romo lain memiliki pengalaman yang jauh lebih kaya, namun barangkali mereka tidak memiliki kesempatan untuk mensharingkannya. Dengan sharing ini saya tidak bermaksud untuk memegahkan diri, sebaliknya, justru melalui refleksi ini saya hendak bersyukur karena telah menerima karunia imamat untuk menyalurkan rahmat Tuhan bagi umat-Nya. Syukur yang sama perlu kita panjatkan atas karunia imamat yang telah dianugerahkan Tuhan kepada para pastor paroki Anda. Pertama, seorang anak gadis sempat lari meninggalkan rumah dan tidak diketahui rimbanya. Dua hari kemudian dia pulang, namun dalam kondisi bingung. Bahkan dia merasa melihat bantal di kamarnya seperti melihat cowok yang mengganggu dia. Akhirnya setelah konsultasi, saya undang mbak itu untuk menerima Sakramen Tobat. Kemudian saya memberkati rumahnya. Gangguan itu pun hilang.

    Kedua, seorang ibu yang baru melahirkan datang konsultasi di pastoran bersama suaminya. Dia merasakan kesakitan di organ kewanitaannya setiap Maghrib dan jam 12 malam. Kondisi ini terus berulang. Maka setelah konsultasi itu, saya undang pasutri itu merayakan Sakramen Tobat, lalu saya minta mereka berpuasa secara Katolik [makan kenyang satu kali] selama tiga hari, dan kemudian saya memberkati rumah mereka. Selama upacara pemberkatan rumah berlangsung, saya sama sekali tidak melihat ataupun merasakan hal yang aneh. Sementara OMK yang mendampingi saya konon mencium bau busuk keluar dari rumah itu pada saat Maghrib ketika kami mendasarkan doa Rosario peristiwa ketiga. Dalam hal ini, saya sama sekali tidak memiliki kepekaan akan hal-hal yang tak kelihatan. Yang pasti, ibu itu kemudian menjadi sembuh. Namun, ternyata pergumulannya masih berlanjut, serangannya kemudian berpindah. Ibu itu kemudian menderita migraine saat berada di ruang kerjanya, namun migrainnya itu hilang apabila dia keluar dari ruang kerjanya. Jadi, migrainenya berdasarkan local! Karena saya tidak mungkin memberkati kantornya, saya sarankan dia mendoakan sendiri dan memercikkan air suci sisa pemberkatan rumah di ruang kerjanya. Ibu itu melakukannya dan syukur kepada Allah kemudian menjadi sembuh. Bahkan temannya satu ruangan bertanya, " melu ngelmu apa?" Tentu saja ngelmunya Gusti Yesus, tukas saya saat ibu itu menuturkan pengalamannya.

    Ketiga, seorang ibu lain lagi mengalami sakit dimana kulitnya menggelembung-gelembung, namun dokter spesialis kulit belum bisa mendiagnosa sakitnya. Dia cuti tidak masuk kerja. Saat dia buang air besar, dia dan pembantunya melihat di dalam kotorannya ada tiga petasan kecil! Setelah mendengar kisahnya via telpon, saya berdiskusi dengan Romo Blasius Tira, romo kepala paroki, akhirnya saya datang untuk melayani Sakramen Tobat, Sakramen Pengurapan orang Sakit, dan pemberkatan rumah. Ternyata saat saya sampai di sana, ibu itu sudah tidak sadarkan diri, sehingga saya hanya melayankan Sakramen Pengurapan Orang Sakit dan pemberkatan rumah. Sepuluh menit setelah upacara selesai, ibu itu baru siuman. Kemudian saya segera pulang untuk persiapan misa sore. Ternyata setelah satu jam saya pulang, ibu itu mengalami bajunya basah semua. Kulitnya yang menggelembung-gelembung itu pecah semua dan keluar darah dan nanah! Ibu itu pun menjadi sembuh.

    Itu tiga pengalaman unik selama dua tahun pertama saya bertugas di paroki Blimbing. Semua pengalaman ini membenarkan kata-kata Pak Thomas yang mengibaratkan kuasa imamat seperti hadiah "mesin jahit". Sejak itu, saya menemukan jawaban dari pergumulan saya. Namun setelah itu, praktis saya tidak pernah lagi berkontak dengan fenomena blackmagic, karena saya menjalankan tugas perutusan studi dan sepulang dari Roma diugaskan di seminari. Hingga kemudian bulan Oktober 2016 lalu saya diminta mendoakan anak-anak Mahasiswa Baru asal dari Sanggau - Kalimantan yang kesurupan sepulang dari pembinaan di luar kota.

    Ketika dikontak dan diminta mendoakan itu, saya tidak ragu soal mendoakan orang kesurupan, melainkan sedikit bingung karena telanjur janjian konsultasi dengan frater. Akhirnya, frater yang mau berkonsultasi sekalian saya ajak. Kami mendatangi asrama anak Sanggau di Malang. Didampingi teman-teman asrama mereka, kami berdoa bersama. Saya mendoakan yang sakit dengan doa pemberkatan orang sakit [waktu itu di sakristi seminari saya pas tidak menemukan minyak orang sakit] dan pemberkatan rumah/asrama mereka. Dari teman-teman mereka saya mendapatkan info tentang nama-nama yang "mengaku menyusupi" para pasien saat meracau. Maka pada saat mendaraskan doa Fatima, nama-nama itu saya sebut untuk dimohonkan kerahiman Tuhan. Dua pasien pertama yang kami doakan, sebelumnya memang sudah pulih dan sadar. Saat kami doakan dan saya perciki air suci, reaksinya biasa saja, tiada hal yang aneh.

    Karena pasien ketiga masih didoakan oleh kelompok doa dari Gereja lain, saya putuskan untuk mendoakan pasien yang berada di asrama lainnya. Malam itu dengan tetap mengenakan alba dan stola, saya berjalan di tengah perkampungan Dinoyo, Malang, diiringi para mahasiswa dari Sanggau. Si pasien keempat sudah dalam kondisi sadar dan bisa diajak komunikasi. Saya mendaraskan doa yang sama: doa untuk orang sakit, doa Bapakami, Salam Maria, dan doa Fatima. Namun, saat salib didekatkan pada si sakit dan saya tambahkan nama-nama pada doa Fatima, tiba-tiba si pasien keempat ini seakan menatap saya dengan nada marah. Teman-teman yang lain berusaha menenangkan dia. Saya hanya berkonsentrasi mendoakan buku pemberkatan orang sakit itu. Setelah doa selesai, si pasien menjadi tenang kembali dan saya lanjutkan dengan pemberkatan seluruh asrama itu.

    Saat saya mau beranjak meninggalkan asrama, ternyata ada penghuni asrama itu yang juga kena. Dia telah didudukkan di brak dekat warung kopi di depan asrama. Cewek itu dalam kondisi sudah tidak sadar, mata terpejam dan kepala tertunduk; dia duduk diapit oleh dua bapak hitam-hitam, sepertinya orang Jawa, yang tengah memijiti telapak tangan si sakit. Pikir saya itu mungkin untuk memperlancar peredaran darahnya. Karena merasa tidak enak harus mendoakannya di pinggir jalan, saya minta teman-temannya membawa si pasien ini masuk ke asrama. Tetapi salah satu bapak tiba-tiba mengusapkan kedua jari jempolnya di dahi anak itu, lalu berkata kepada saya, "Silakan kalo bisa!" Lalu mereka meninggalkan kami.

    Saya tidak menyangka akan mendapat reaksi demikian. Niat saya datang kan untuk menolong dan mendoakan para mahasiswi Katolik yang sakit ini. Saya memilih tidak meladeni "tantangan" mereka, supaya saya sendiri tidak terjebak pada permainan kuasa kegelapan : kalau saya tersinggung dan marah, berarti saya akan terjebak dalam permainan itu. Maka saya memilih mendoakan si sakit tetap di brak dekat warung kopi itu. Sepanjang doa berlangsung, si sakit tetap tertunduk tak sadarkan diri. Namun, ketika air suci saya percikkan dan salib saya dekatkan pada dia, dia bereaksi dan mengeluh kesakitan. Usai didoakan di brak itu, dia dibawa masuk ke asrama. Belakangan baru saya ketahui bahwa kedua bapak yang menantang saya itu ternyata dikenal sebagai tukang gambuh (dukun untuk menyadarkan kondisi trance) kuda lumping di kampung itu!

    Akhirnya, kami kembali ke asrama pertama untuk mendoakan pasien ketiga yang tadinya masih didoakan oleh kelompok doa gereja lain. Begitu tahu ada anak-anak dari gereja lain, dengan spontan dalam ajakan doa saya selipkan katekese singkat. Ketika menyinggung soal Gereja, saya tambahkan Gereja yang telah didirikan di atas dasar St. Petrus, dan saat mengajak mendaraskan Salam Maria, saya beri pengantar: "Mari kita mengulang salam dari Malaikat Gabriel dan Elisabeth kepada Bunda Yesus dan bunda semua pengikut Kristus." Tadinya, si pasien sepertinya sudah sembuh; namun begitu saya sebutkan daftar nama pada doa Fatima, tiba-tiba si pasien menjadi sangat bertenaga dan bernafas berat. Teman-temannya berusaha memegangi supaya dia tidak meronta. Saya makin kencang mendoakannya dan mendekatkan salib pada si pasien. Usai didoakan, pasien ketiga ini menjadi tenang kembali. Malam itu dari jam setengah sembilan malam sampai jam setengah sebelas malam kami mendoakan lima mahasiswi yang kesurupan. Syukur kepada Allah, Tuhan mendengarkan doa-doa kami bersama dan para pasien ini menjadi sembuh kembali setelah hampir dua hari menderita.

Refleksi Pengalaman Pelayanan

    Apa yang saya tawarkan dan layankan untuk menangani fenomena blackmagic di atas, sebenarnya dengan memberikan pelayanan Sakramen (Sakramen Tobat dan Sakramen Pengurapan Orang Sakit) atau Sakramentali (Pemberkatan air suci, pemberkatan rumah, pemberkatan orang sakit). Itulah yang bisa saya lakukan sebagai seorang imam yang telah menerima tahbisan imamat. Tentu saja dalam proses mendoakan mereka, saya juga membawanya dalam intensi Misa Kudus. Di atas sudah saya tegaskan, bahwa saya ini termasuk imam biasa-biasa saja yang tidak dianugerahi Tuhan karunia "spektakuler" dan tidak juga gentur tapane; maka ketika kenyataan keselamatan yang tak kelihatan itu mengalir dan kuasa Kristus secara nyata mematahkan seragan blackmagic, di sinilah prinsip Ex opere Operato terjadi. Keabsahan sakramen tidak tergantung pada kesucian pribadi si pelayan sakramen ataupun karunia khusus yang diterimanya. Maka kesimpulannya, semua imam dapat menolong dengan melayankan perayaan Sakramen dan Sakramentali. Demikian pula para pastor paroki diberi kuasa untuk melayani umatnya, juga untuk mengatasi fenomena blackmagic! Seandainya ada umat yang meminta pertolongan saya pun, akan saya sarankan agar mereka memohon pelayanan dari romo parokinya! Saya tidak ingin umat terjebak pada kultus individu, seakan-akan hanya romo-romo tertentu yang bisa melakukannya dan melupakan kuasa Kristus sendiri di balik sakramen dan sakramentali itu.

    Berkaitan dengan fenomena blackmagic, saya tidak melakukan eksorsisme besar karena hal itu hanya wewenang Uskup dan beberapa imam yang mendapat mandat dari Uskup (KGK 1673). Sedangkan untuk eksorsisme kecil, yakni pengusiran setan dalam upacara pembaptisan, dapat dilakukan oleh setiap imam. Dalam hal ini kita perlu berhati-hati agar tidak bertindak melampaui wewenang kita. Kita ingat bagaimana Anak-Anak Skewa yang berusaha mengusir setan dalam nama Yesus, justru dilawan oleh si Roh Jahat, "Yesus aku kenal, dan Paulus aku ketahui, tetapi kamu, siapakah kamu?" (Kis 19:15).

    Mengunjungi dan mendoakan orang sakit adalah hal yang lumrah dilakukan seorang imam. Umat juga mengerti bila setelah didoakan pun proses pemulihan si sakit membutuhkan waktu dan aneka tindakan medis. Tetapi untuk kasus fenomena blackmagic, ibaratnya kasus gawat darurat, dimana dampaknya diharapkan langsung kelihatan dan si sakit segera pulih dari penderitaannya. Di sinilah tantangan mendoakan umat yang terkena blackmagic. Kita sendiri ditantang untuk mengimani kuasa Kristus. Hal yang perlu kita lakukan adalah berserah kepada Tuhan dan mengandalkan Dia. Kesembuhan si sakit itu urusan Tuhan Yesus, bukan karena kehebatan atau kesalehan saya sebagai imam. Realitas diri saya sebagai imam yang biasa-biasa saja ini justru menyadarkan saya akan dahsyatnya kuasa imamat yang memungkinkan setiap imam melayani Sakramen dan Sakramentali, yang melaluinya kuasa dan rahmat Kristus dicurahkan.

    Karena tidak dianugerahi kepekaan untuk melihat ataupun merasakan fenomena yang tak kelihatan, saya hanya bisa melihat dari reaksi umat yang saya doakan. Dari lima pasien yang saya doakan dengan rumusan doa dan ritual yang sama, mereka memiliki reaksi yang berbeda-beda. Dua pasien yang pertama tidak bereaksi apa-apa saat diperciki air suci, seperti yang kita alami saat Misa Kudus diadakan pemercikan air suci (Asperges Me) ataupun saat pembaharuan Janji Baptis pada Malam Paskah, umumnya kita merasa biasa saja. Sementara tiga pasien berikutnya, segera bereaksi ketika diperciki air suci dan didekatkan pada salib. Perbedaan ini barangkali bisa dianalogikan dengan pijat refleksi. Ketika kita dalam kondisi sehat dan telapak kaki kita dipijit, kita bereaksi biasa saja. Sebaliknya, bila kita sedang ada gangguan fisik, di beberapa titik pijit, baru disentuh saja, kita mengalami rasa sakit. Tiga pasien terakhir ini bereaksi karena mereka masih berkontak dengan kuasa kegelapan, yang segera bereaksi terhadap salib dan percikan air suci. Hal yang sama terjadi dengan ibu di Ngadireso, yang merasakan kepanasan saat Sakramen Mahakudus dalam monstran didekatkan pada dia. Sementara kita yang dalam kondisi baik-baik saja, kerap tidak merasakan fenomena berbeda saat merayakan Sakramen dan Sakramentali. Reaksi berbeda mereka terhadap Sakramen dan Sakramentali mengingatkan kita akan kenyataan keselamatan yang tak kelihatan dimana kuasa Kristus sungguh mengalir dan tercurah. Maka kita bisa mengamini kuasa dan rahmat Kristus yang tercurah dalam diri kita masing-masing setiap kali kita merayakan Sakramen dan Sakramentali, kendati kita tidak bisa melihatnya. "Berbahagialah yang tidak melihat, namun percaya!" demikian penegasan Tuhan Yesus kepada Thomas.

    Dalam pemberkatan sakramentali digunakan air suci, dimana garam dicampurkan ke dalam air. Tindakan liturgis ini bertitik tolak dari pengalaman Nabi Elisa yang menyehatkan mata air kota Yerikho yang mengakibatkan banyak keguguran bayi dengan menaburkan garam ke mata air (2 Raj 2:19-22). Dinyatakan dalam rumusan pemberkatan garam, "Allah yang mahakuasa, Engkau menyuruh nabi Elisa mencampurkan garam ke dalam air supaya air itu memancarkan kesehatan dan kesuburan. Berkatilah garam ini supaya barangsiapa diperciki air yang dicampuri garam ini diluputkan dari serangan setan dan diteguhkan oleh kehadiran Roh Kudus."

    Dalam mendoakan orang yang terkena fenomena blackmagic, terkadang perlu disertai dengan puasa, seperti ditegaskan oleh Yesus, "Jenis ini tidak bisa diusir kecuali dengan berdoa dan berpuasa" (Mat 17:21). Puasa mengungkapkan intensitas doa permohonan. Dalam hal ini saya selalu merekomendasikan puasa secara Katolik, yakni makan kenyang satu kali dan tidak mengenal buka ataupun sahur. Kalaupun ada yang menghendaki puasa seminggu dua kali, saya lebih condong mengikuti tradisi Kristen yang terungkap dalam kitab Didakhe, tulisan dari Yahudi Kristen dari abad II, "Hendaklah puasamu tidak seperti orang-orang munafik (hypokritēs), mereka berpuasa pada hari Senin dan Kamis; sebaliknya, hendaknya kamu berpuasa pada hari Rabu dan Jumat" (Did 8:1). Berpuasa seminggu dua kali pada hari Senin dan Kamis adalah kebiasaan orang-orang Farisi (Luk 18:12). Agaknya tradisi Farisi ini kemudian mempengaruhi tradisi Muslim dan Kejawen berpuasa pada hari Senin dan Kamis. Belajar dari generasi pertama orang-orang Kristen, kita perlu menghidupi tradisi Kristen yang berpuasa hari Rabu dan Jumat dimana puasa itu juga dikaitkan untuk mengenang Yesus, Sang Mempelai yang diambil dari tengah para murid-Nya (bdk. Mrk 2:20).

    Dalam madah pengosongan diri Kristus di Flp 2:5-11 dinyatakan bagaimana Kristus telah mengosongkan diri, menjadi hamba, dan taat pada kehendak Bapa-Nya sampai mati di kayu salib. "Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi dan segala lidah mengaku Yesus Kristus adalah Tuhan, bagi kemuliaan Allah, Bapa!" (Flp 2:9-11). Kuasa nama Yesus sungguh dahsyat seperti dinyatakan dalam Kisah para rasul dan pengalaman kecil saya tadi. Bila kita sudah mengetahui ada kuasa nama Yesus yang maha dahsyat, tidak perlu kita berpaling kepada "orang-orang pintar" yang hanya memiliki kuasa "amatiran". Manakala mengalami pergumulan iman, tidak perlu umat ragu untuk datang dan berkonsultasi pada romo paroki. Para romo paroki akan mendengarkan, mendoakan dan melayani kebutuhan rohani Anda, termasuk berkaitan fenomena blackmagic. Bukan karena romonya yang hebat atau memiliki karunia "spektakuler", melainkan kuasa imamat memungkinkan mereka menghadirkan kuasa dan nama Yesus dalam pelayanan Sakramen dan Sakramentali.

    Rasul Paulus juga mengingatkan kita akan peperangan rohani, dimana kita tidak bertempur melawan darah dan daging [manusia], melainkan melawan "penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara" (Ef 6:11-12). Untuk itu kita harus mengenakan seluruh perlengkapan senjata rohani. Paulus melukiskannya dengan perlengkapan senjata prajurit romawi: ikat pinggang: kebenaran, baju zirah: keadilan, kasut kaki: kerelaan mewartakan Injil damai sejahtera, perisai: iman, ketopong/helm: keselamatan, pedang Roh: Firman Allah (Ef 6:14-17). Inilah perlengkapan senjata rohani dalam peperangan rohani dalam diri kita masing-masing, maupun saat membantu mendoakan sesama yang terkena fenomena blackmagic. Apabila kita menyadari bahwa hidup kita justru berlawanan dengan kasih yang diajarkan oleh Yesus, kita sendiri perlu memohon rahmat pengampunan Tuhan melalui Sakramen Tobat, sebelum membantu orang lain dibebaskan dari pengaruh blackmagic. Janji Yesus, "Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya" (Yoh 15:7). Maka dalam mendoakan mereka yang terkena blackmagic, kita sendiri perlu hidup dalam kasih dan memohon pada Tuhan Yesus dengan sepenuh iman dan penyerahan pada kuasa dan kasih-Nya.

Mensyukuri Karunia Imamat

    Pengalaman kecil saya mendoakan umat yang terkena fenomena blackmagic melalui pelayanan Sakramen dan Sakramentali, mengingatkan betapa luhurnya karunia imamat yang diberikan Tuhan kepada Gereja-Nya. Karena saya ini imam yang biasa-biasa saja dan tidak gentur tapane, saya justru melihat dan mengakui kuasa Kristus di balik pelayanan Sakramen dan Sakramentali, bukan karena kehebatan ataupun kesalehan saya. Refleksi saya ini akan mencapai maksudnya, manakala Anda tidak mengkultuskan imam-imam tertentu, melainkan menghargai dan mensyukuri karunia imamat yang diberikan Tuhan kepada Gereja-Nya dan berani mengimani kuasa Kristus di balik pelayanan Sakramen dan Sakramentali yang bisa jadi terkadang terasa monoton dan serba biasa, bahkan mungkin tertutupi oleh kelemahan dan keterbatasan kami sebagai pelayan-Nya. Maka manakala menghadapi fenomena blackmagic, Anda tidak perlu ragu-ragu memohon bantuan pelayanan doa dari pastor paroki Anda!

 (Sukoreno - Jember, 1 Juli 2017)