PENGANTAR
Tahun Masehi dimulai dan dirayakan pada tanggal 1 Januari, seminggu sesudah kelahiran Yesus. Secara liturgis hari ini masih termasuk dalam Oktaf Natal. Sebelum Konsili Vatikan II hari awal Tahun Baru Masehi dirayakan sebagai Pesta Sunat Yesus dan sebagai Pesta Nama Kudus Yesus. Sesudah KV II hari ini dirayakan sebagai Hari Raya Santa Maria Bunda Allah. Dan juga disebut sebagai Hari Perdamaian Sedunia. Kalau Gereja memberi pelbagai nama kepada Tahun Baru, bukankah itu suatu ajakan kepada kita sebagai orang Kristiani, untuk bukan hanya merayakan Tahun Baru secara profan lahiriah betapapun meriahnya, namun juga bahkan terutama sebagai Hari Raya Rohani?
HOMILI
Di dunia Bagian Timur pemberian nama kepada anak adalah ungkapan ciri khas pribadi, hidup dan perbuatan, yang diharapkan dari anak yang dilahirkan. Yesus dalam kata asli Ibrani atau Aramais berarti “Yahwe menyelamatkan”.
Sesudah Konsili Vatikan II pada tanggal 1 Januari selanjutnya setiap tahun dirayakan Hari Raya Bunda Maria Bunda Allah. Kata Maria berasal dari kata Ibrani Miriam, yang mungkin berasal dari kata Mesir, yang berarti “yang dikasihi”. Dalam kenyataannnya Maria adalah teladan pendengar asli sabda Allah. Ia menerima dan taat sepenuhnya akan sabda Allah, walaupun ia tidak tahu bagaimana sabda ilahi itu akan menjadi kenyataan. Maria tidak selalu mampu memahami sabda Allah itu lewat segenap hidup Yesus. Namun penuh kepercaya-an dan keyakinan Maria selalu setia akan jawabannya “Fiat”, “Terjadilah padaku”, yang disampaikannya kepada malaikat Gabriel. Maria selalu “menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya” (Luk 2:1). Baru sekitar tigapuluh tiga tahun di kemudian hari, pada hari Jumat siang di Kalvari, di kota Yerusalem, Maria baru dapat mengalami dan menghayati tanggungjawabnya sepenuhnya atas “Fiat”, “Ya, terjadilah padaku” yang diucapkannya.
Maria adalah Bunda Yesus Penebus kita. Memang peranan Maria sebagai Bunda Penebus bukanlah peranannya sebagai Penebus itu sendiri. Namun seluruh umat manusia, kita semua ini, ditebus dan diselamatkan oleh Yesus berkat kerelaan dan kesediaan Maria menjadi Bunda Yesus sebagai manusia seperti kita!
Karena itulah Gereja mengajak kita umat kristiani pada awal Tahun Baru ini mengarahkan perhatian kita kepada Maria Bunda Allah, Bunda Yesus Kristus dan Bunda kita, agar ia menyertai kita dalam menempuh perjalanan hidup dan pelaksanaan tugas panggilan kita dengan sikap dasar hatinya: Fiat! Kita diajak untuk melangkah ke depan dengan kesediaan hidup dan bertindak seperti Maria!
Dari Kitab Suci kita memang tidak memiliki banyak ceritera tentang keadaan sehari-hari dan pengalaman hidup Bunda Maria. Tetapi dari bahan terbatas tentang pengalaman hidupnya yang terbatas itu terungkap pengalaman hidupnya yang luarbiasa dan sangat luhur dan berharga untuk diperhatikan dan dijadikan teladan bagi kita semua, khususnya umat kristiani. Mengapa?
Secara normal bagi kita sebagai manusia, betapa mengagumkan Maria bersedia mengandung tanpa hubungan dengan seorang suami. Maria bersedia menerima dugaan orang yang negatif tentang keadaannya yang mengandung. Maria menerima dengan rela kenyataannya, bahwa ia haus melahirkan anaknya di palungan di kandang hewan di Betlehem. Sesudah Yesus anaknya lahir, ternyata ia bersama Yusuf harus pergi jauh ke Mesir untuk menyelamatkan anaknya itu, karena anak-anak yang umurnya sebaya dengan Yesus di Palestina, atas perintah Raja Herodes harus dibunuh. Meskipun akhirnya selamat dan kemudian dapat pulang kembali ke Palestina, Yusuf dan Maria tinggal bersama anak Yesus di Nasaret. Di sanalah Yusuf dan Maria merawat dan mendidik Yesus dalam kesederhanannya sampai menjadi dewasa.
Yesus mulai tampil di dalam masyarakat sebagai Almasih, dan mewartakan warta gembira atau Injil tentang Kerajaan Allah dan sekaligus melaksanakannya. Ia bukan hanya berkhotbah tetapi juga memberi makan kepada orang lapar, menyembuhkan orang sakit, mengusir setan, bahkan orang mati pun dihidupkan kembali. Maria menyaksikan dan mengalami sendiri, bahwa memang banyak orang mendengarkan sabda Yesus dan mengikuti-Nya, namun akhirnya Yesus ditolak, harus mengalami penderitaan, dan akhirnya dihukum mati di kayu salib!
Gambaran singkat ini sekaligus menggambarkan betapa agung, luarbiasa dan betapa luhur hati Bunda Maria. Keyakinan imannya yang diungkapkan dalam ucapan “Fiat”, “Terjadilah” kehendakMu, oleh Maria, dihayatinya sepenuhnya! Marilah kita berikhtiar berpikir, bersikap dan berbuat seperti Maria. Maria adalah Bunda Allah, Bunda Yesus Kristus, namun sekaligus Bunda kita.
Mgr. FX. Hadisumarta, O.Carm
kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm