Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki,( 67, 834 / 883-901)
SEJARAH PAUS

Ensiklik & Surat Paus

Dokumen KV 2

No:
masukkan no. yang dikehendaki - 0 (nol) untuk melihat daftar isi -(catatan kaki lihat versi Cetak)

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

MINGGU BIASA II/C/2010
17 Januari 2010

Yes 62:1-5   1 Kor 12:4-11   Yoh 2:1-11

PENGANTAR

          Setiap bacaan Kitab Suci yang kita dengar hari ini sungguh bagus dan penuh makna. Bacaan pertama menggambarkan betapa besar kasih Allah kepada manusia bagaikan kasih suami kepada isterinya. Dalam bacaan kedua Paulus menekankan, bahwa kita semua diberi “rupa-rupa karunia, tetapi ada satu Roh”, “rupa-rupa pelayanan, tetapi hanya ada satu Tuhan”, dan semua itu “untuk kepentingan bersama”. Dan dalam Injil Yohanes mau menun-jukkan bahwa apa yang terjadi dalam perkawinan di Kana, adalah suatu gambaran tentang komunitas kristiani ideal, karena Yesus dan Maria hadir dan berperan di dalamnya.

HOMILI
            Perkawinan adalah suatu peristiwa penting dalam hidup manusia. Di situlah terungkap hubungan kasih paling mendalam antar manusia berdua. Seperti diungkapkan dalam Bacaan pertama: Sikap Allah terhadap Israel, umat terpilih-Nya diumpamakan sebagai sikap kasih suami terhadap isteri-nya. Dalam Injil hari ini Yohanes ingin menunjukkan kepada kita, bahwa pesta perkawinan di Kana yang diceriterakannya sungguh membahagiakan dan terberkati. Mengapa? Karena Yesus dan Maria bahkan murid-murid-Nya pun ikut hadir! Apa artinya?

          Perkawinan begitu dihargai oleh Gereja, bahkan diangkat menjadi sakramen. Dengan demikian perkawinan dihubungkan dengan Allah, yakni dalam hubungannya melalui Yesus Kristus. Dengan latar belakang ini, di dalam ceritera tentang perkawinan di Kana itu ditunjukkan peranan dua orang tokoh penting yang harus hadir dalam setiap komunitas umat kristiani: Yesus dan Maria.

          Pertama: Maria hadir dalam perkawinan itu. Maria telah melahirkan Yesus sebagai manusia Penyelamat. Dan ketika Yesus bergaul dan tampil di depan umum, dan kali ini pada pesta perkawinan di Kana, Maria secara tidak menyolok mohon Yesus puteranya untuk menolong dan menggembirakan hati orang-orang yang hadir. Ia mohon kepada Yesus, supaya menolong mereka. Meskipun tidak secara langsung, permohonanya akhirnya dikabul-kanNya juga. Maria hanya mengatakan kepada pelayan-pelayan: “Lakukan-lah segala sesuatu, yang akan diperintahkan kepadamu”. Di sini sungguh tampak kepekaan kasih keibuan Maria dalam menghadapi situasi sesama. *Ia bukan tampil secara menyolok dan mudah dilihat orang, melainkan secara sederhana, nyaris diketahui orang namun nyata.

          Kedua: Yesus bukan hadir dalam pesta perkawinan itu sekadar untuk secara resmi memenuhi undangan, melainkan juga ikut berbuat riil nyata untuk menggembirakan suasana perkawinan itu. Ia tidak ingin mempo-pulerkan diri dengan memperlihatkan kemampuan-Nya mengadakan muk-jizat, yakni menyediakan anggur kelas satu sejak permulaan. Ternyata Yesus memperlihatkan kebapaan dan kepemimpinan-Nya yang sejati. Yesus menghormati setiap orang. Ia membiarkan setiap orang  berbuat sesuai de-ngan kehendak dan kemampuannya. Tetapi dalam kepemimpinan Yesus itu tampaklah pula kebapaan-Nya. Di mana usaha seseorang tidak mampu memenuhi kebutuhannya, di situlah Ia tampil, bukan supaya diri-Nya dipuji orang, melainkan agar orang itu dapat ikut merasakan betapa besar kasih Allah kepadanya.

          Betapa indah dan bahagia setiap perkawinan, keluarga, komu-nitas, apabila Maria dan Yesus dapat ikut hadir di dalamnya! Bila setiap orang dalam hidupnya bersama dengan orang-orang lain, apa pun dan bagaimana pun bentuknya, bersedia dan bertekad hidup dengan jiwa, sikap dan perbuatan seperti ditunjukkan Yesus dan Maria dalam kehadiran mereka di Kana, ia sungguh akan merasakan kegembiraan kristiani sejati. Amin.

Jakarta, 16 Januari 2006