PENGANTAR
Sekarang ini kita berada pada awal Tahun Baru 2016 dalam abad ke 21. Paus Fransiskus pada akhir tahun lalu telah mengatakan, bahwa tahun ini (2016) adalah Tahun Kerahiman Ilahi. Injil Lukas hari ini menunjukkan kepada kita bahwa Yesus datang untuk menyampaikan kerahiman Allah Bapa-Nya itu kepada semua orang. Dalam Injil Yesus berkata: “Roh Kudus…telah mengurapi Aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta; untuk membebaskan orang-orang yang tertindas untuk memberitakan bahwa tahun rahmat Tuhan telah datang”.
HOMILI
Yesus mengatakan bahwa Ia datang diutus memberitakan, bahwa rahmat Tuhan sudah datang. Dalam bahasa alkitabiah lazim dikatakan juga, bahwa Kerajaan Allah sudah datang. Kedua istilah (rahmat dan Kerajaan Allah) itu maksudnya sama. Yesus telah datang untuk menyelamatkan umat manusia. Itulah kerajaan Allah yang didirikan-Nya, dan itulah rahmat keselamatan yang diberikan kepada kita. Itulah Gereja yang telah didirikan-Nya.
Tetapi sampai abad ke 21 ini kerajaan-Nya itu seolah-olah belum tampak.
Mengapa? Karena rahmat dan Kerajaan Allah yang didirikan Kristus digambarkan secara duniawi, secara materiil, sebagai hal-hal yang serba tampak : dunia yang aman, makmur sejahtera, di mana tidak ada permusuhan maupun balas dendam, melainkan terdapat perdamaian dan persaudaraan.
Ternyata Yesus tampil mewartakan, melaksanakan Kerajaan rohani, tetapi kerajaan rohani dalam hati orang-orang, yang percaya akan kasih dan kerahiman Allah, merupakan dasar dan sumber kerajaan jasmani yang tampak dan dihayati secara nyata. Memang sesudah duapuluh abad, kerajaan Allah menurut gambaran materialistis belum tampak serba nyata.
Inilah keadaan dan proses iman sejati yang harus kita alami. Dengan iman kita sebagai orang beriman, kita harus mengalami ketegangan kepercayaan akan Kerajaan Allah yang sudah ada dan yang belum ada. Kerajaan Allah berada di dalam diri Yesus Kristus, di dalam pewartaan-Nya, di dalam karya-karya yang dilaksanakan-Nya, disertai tanda-tanda-Nya sebagai Almasih, seperti misalnya penyembuhan orang sakit, member makan dan minum kepada orang yang lapar dan haus, mengusir roh jahat atau setan, bahkan membangkitkankembali orang mati.
Itulah kenyataan dan bukti adanya Kerajaan Allah yang ditunjukkan Yesus kepada dunia. Yesus telah mengutus para rasul untuk meneruskan mewartakan dan melaksanakan kabar gembira yang sama. Para rasul, murid-murid atau pengikut-pengikut Kristus, seperti para orang kudus dan sekian banyak orang yang sungguh beriman, dalam kehidupan dan pekerjaan mereka telah ikut membuktikan adanya Kerajaan Allah. Kita tidak tahu, - tetapi Yesus pun berkata bahwa Ia tidak tahu - , berapa lama dan kapan ketegangan dalam iman kita itu akan selesai. Kita memang hidup dalam iman akan “sudah adanya Kerajaan Allah” dan akan “belum terselenggarannya Kerajaan Allah secara utuh, tetapi sedang berlangsung”.
Apakah pesan Injil Lukas tentang Yesus dan rahmat atau Kerajaan-Nya?
Iman kita bukanlah suatu pengetahuan atau ilmu, melainkan suatu keyakinan kita sebagai pribadi. Bukan dipaksakan. Yesus adalah Almasih seperti dibuktikan-Nya lewat ajaran, hidup, sikap dan perbuatan-Nya kepada semua orang.
Memang keselamatan kita sudah dimulai, belum sepenuhnya, namun pasti! Untuk diselematkan kita harus terus menerus mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh, jangan secara ikut-ikutan. Iman sejati selalu diuji kesungguhannya!
Bukan hanya hidup dengan berbuat secara fisik, jasmani, materiil, namun terutama juga secara rohani, spiritual dan batiniah. Kita termasuk orang-orang yang disebut dalam Injil Lukas: sebagai orang yaitu ikut tahu dan merasa diri kita di hadapan Tuhan sebagai orang-orang yang miskin, tawanan, buta, tertindas baik rohaniah maupun jasmaniah! Kerendahan di hadapan Tuhan itulah syarat mutlak untuk memperoleh keselamatan kita yang abadi.
Hanya orang beriman yang merasakan kekurangannya itulah yang akan diselamatkan dan patut memasuki Kerajaan Allah dan menerima rahmat Kristus.
Marilah kita semua berusaha hidup, bersikap dan berbuat seperti ditawarkan oleh Paus Fransiskus: yaitu hidup dan bertindak menurut kerahiman ilahi terhadap sesama, seperti terbukti dalam hidup dan perbuatan Yesus Kristus sendiri
Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.
kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm