H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm
MINGGU BIASA XVIII/B/2015
Kel 16:2-4.12-15 Ef 4:17.20-24 Yoh 6:24-35
PENGANTAR
Pada hari ini Sabda Allah di dalam ketiga bacaan yang disampaikan kepada kita memang mempunyai latar belakang situasi dan kondisi masyarakat yang berbeda. Namun isi pesan ketiga bacaan itu sangat erat hubungan maknanya satu sama lain. Dan semuanya sangat aktual dan relevan bagi kita sekarang ini juga. Sebab Isi pokok pesan Sabda Allah itu ialah, bahwa kita dalam kehidupan kita harus selalu bersedia dan senantiasa peka untuk mendengarkan, memahami dan menghayati sabda Allah itu. Sabda Allah itu antara lain adalah apa yang kita doakan setiap hari dalam doa Bapa Kami , di mana kita antara lain berdoa:“Berilah kami rezeki pada hari ini”.
HOMILI
Sebelum berceritera tentang Injil yang tadi telah kita dengarkan, Yohanes berceritera juga tentang Yesus yang memberi makan kepada 5000 orang. Yohanes menegaskan, bahwa karena diberi roti atau makanan, yang memang dibutuhkan sekian banyak orang itu, mereka mau menjadikan Yesus menjadi raja. Reaksi Yesus ialah: Ia mengundurkan diri. Keesokan harinya, ketika mereka menemukan Yesus kembali, Ia pun berkata: “Sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang. Bekerjalah, bukan untuk makanan yang dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal”.
Setiap orang, kita semua memang membutuhkan roti atau rezeki, supaya bisa hidup. Rasa lapar atau haus adalah tanda bahwa kita memang sungguh membutuhkannya. Tetapi kita sebagai orang beriman juga tahu dan percaya, bahwa hidup kita bukan hanya sekarang, tetapi juga untuk hidup kelak, hidup abadi. Kita bahkan percaya, bahwa secara simbolis hidup abadi kita sudah dimulai sekarang ini juga, khususnya berkat baptis dan sakramen-sakramen lainnya, yang telah kita terima! Hidup kita sebagai manusia yang beriman berkat kesatuan kita yang erat dengan Kristus, hanya sungguh manusiawi secara total apabila kita bukan hanya makan roti jasmani atau materiil belaka, melainkan juga makan “roti dari surga”. Yesus berkata: “Akulah roti hidup! Barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi”.
Inilah suatu tantangan dan peringatan bagi kita semua sebagai orang beriman kristiani sejati. Kita diingatkan, agar selalu sadar bahwa hidup kita sebagai manusia harus kita hayati seperti dihayati oleh Yesus sendiri dalam hidup-Nya sebagai manusia! Itu berarti bahwa kita hari demi hari harus makin mengenal Yesus, mengenal cara hidup-Nya, berusaha memiliki sikap dan pergaulan-Nya dengan Bapa-Nya di durga yang mengutus-Nya. Namun juga juga dalam sikap dan pergaulan-Nya dengan semua orang tanpa perbedaan. Bahkan mereka yang secara manusiawi sering kita jauhi, dan kita anggap tidak pantas, ataupun orang-orang pinggiran, orang-orang rendahan, bahkan orang berdosa, - semua itu justru didekati oleh Yesus. Kepada mereka itu Yesus, tanpa perbedaan, tanpa pilih-pilih, datang membawa roti atau rezeki. Bukan hanya sejauh itu, bahkan diri-Nya sendiri pun diberikan-Nya sesama manusia sebagai roti hidup!
Yesus memberikan diri sebagai roti sampai mengeluarkan darah-Nya dan mati di salib. Tetapi ketika bangkit kembali, pemberian diri-Nya sebagai roti kehidupan tetap dilaksanakan-Nya. Apa yang dahulu telah dilakukan-Nya, sekarang pun dapat dilaksanakan lagi, dan khususnya di dalam pemberian tubuh dan darah-Nya di dalam penerimaan Ekaristi, yang merupakan roti kehidupan kekal!
Apa pesan sabda Allah dalam Injil Yohanes hari ini kepada kita?
Seolah-olah Yesus menyapa kita dan berkata: “Bila kamu sungguh ingin hidup bahagia dan penuh damai sebagai manusia secara sungguh manusiawi, kamu harus makan Aku sebagai roti kehidupan sejati. Usahakanlah selalu untuk meresapkan pedoman hidup-Ku sebagai manusia menjadi pedoman penghayatan hidupmu.”
Kita sekarang ini hidup di dunia yang makin ramai penuh gempita, selalu mendengar suara media komunikasi tanpa henti. Kita harus sadar dan rela menyediakan waktu juga untuk mendengarkan sabda Allah, yang selalu menyapa kita dalam hidup sehari-hari. Hidup kita di dunia ini terbatas waktunya. Kita harus mempersiapkan diri untuk hidup kekal. Kecuali roti duniawi kita juga membutuhkan roti surgawi.
Khususnya dalam perayaan Ekaristi kita bersama-sama menerima dan makan roti sabda Allah dari mimbar, namun sekaligus juga makan roti tubuh dan darah Kristus dari meja altar.
Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.
kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm