H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm
HARI MINGGU BIASA XXII/C/2013
Sir 3:19-21.30-31 Ibr 12:18-19.22-24a Luk 14:1.7-14
PENGANTAR
Makan bersama adalah ungkapan yang sangat baik untuk mempererat hubungan kekeluargaan atau kebersamaan antar sesama. Injil Lukas hari ini menunjukkan kepada kita, bagaimana Yesus menggunakan kesempatan makan bersama dengan seorang pemimpin orang-orang Farisi untuk memberi pelajaran kepada kita. Isi pokok ajaran-Nya ialah: “Barangsiapa meninggikan diri akan direndahkan, dan barangsiapa merendahkan diri akan ditinggikan”.
HOMILI
Yesus memberi nasihat agar kita, bila diundang untuk perjamuan makan atau pertemuan penting dengan banyak orang, janganlah mencari tempat duduk yang sangat terhormat. Lebih baik mengikuti pengatur tatatertib, jangan sampai dipersilahkan berpindah ke tempat pada tingkat yang lebih rendah.
Tetapi Yesus juga member nasihat, jangan sampai kita memang memilih tempat sederhana pada tingkat yang rendah, namun dengan perhitungan agar si pengatur tatatertib nanti justru akan datang untuk mempersilahkan kita berpindah ke tempat pada tingkat tinggi. Cara berbuat secara ini bukanlah suatu kerendahan hati, melainkan justru sebaliknya, yakni suatu siasat kesombongan agar dipuji orang-orang lain. Latar belakang untuk berbuat demikian itu adalah sifat manusia yang pura-pura dan palsu atau suatu kesederhanaan namun dengan perhitungan. Tetapi jangan sampai kita menyangka, bahwa Yesus menolak atau melarang suatu tatakrama, tatatertib ataupun etika pergaulan yang baik dalam masyarakat. Adat istiadat yang baik harus dihargai dan dipelihara.
Dalam Injil yang kita dengarkan hari ini Yesus sebenarnya mau memberi ajaran kepada kita, bukan langsung mengenai “perjamuan makan di dunia” sekarang ini saja, melainkan “perjamuan makan di dalam Kerajaan Allah” yang didirikan-Nya. Karena itu, suasana dan tatatertib, tetapi terutama sikap dasar setiap orang yang diundang untuk ikut hadir dalam perjamuan di Kerajaan Allah itu, harus total berlainan dari sikap orang yang diundang untuk perjamuan di dalam masyarakat kita.
Mengapa? Dalam perjamuan makan di dalam Kerajaan Allah adalah Allah sendiri, lewat Yesus Kristus yang mengundang kita. Nah, ajaran, teladan, perintah- perintah Yesuslah yang merupakan tatatertib dalam perjamuan makan tersebut. Apa syarat-syaratnya? Di depan Allah tiada seorang pun dapat merasa diri lebih besar, lebih penting, lebih berhak diterima dan dihargai oleh Allah melebihi orang lain. Maka sadar akan kedudukan kita di hadapan Allah, yang sama martabatnya dan sama-sama dikasihi-Nya, jangan sampai di antara kita ini kita saling melihat, bersikap, maupun berbuat sebagai orang yang merasa lebih berharga dan dibanggakan orang-orang lain.
Bukankah di hadapan Tuhan kita ini sebenarnya merasa sebagai orang yang jauh dari sempurna, punya kebaikan dan kelebihan, namun sekaligus juga punya kekurangan bahkan juga berdosa. Beranikah kita dalam menghadap Tuhan dalam perjamuan makan dalam Kerajaan Allah itu mencari dan memilih tempat yang terhormat melebihi lain-lainnya?
Tetapi Kerajaan Allah yang didirikan Kristus itu bukan baru mulai kelak, melainkan sudah ada, yaitu sejak Yesus bangkit kembali, naik ke surga untuk mengirimkan Roh-Nya, yang akan memimpin Kerajaan-Nya itu. Kita sebagai Gereja, sebagai persekutuan umat beriman, sudah dapat dan dalam kenyataannya sudah selalu diundang untuk berhimpun merayakan perjamuan makan bersama dalam Ekaristi.
Dalam hadir dan merayakan Ekaristi sebagai perjamuan makan dalam Kerayaan Allah inilah kita harus patuh akan sikap, ajaran, perintah dan teladan Yesus Kristus, sebagai orang yang sederhana, rendah hati. Adakah orang yang lebih sederhana, rendah hati dari pada Yesus sendiri? Adakah sikap taat dan rendah hati terhadap Allah yang melebihi Yesus, Putera-Nya sendiri, yang rela dan siap menanggung penderitaan dan mati di salib? Ternyata sikap, hidup dan perbuatan tanpa pamrih dan sungguh rendah hati terhadap Allah dan sesama yang dikasihi-Nya, - itulah ternyata yang mendapat penghormatan Allah yang tertinggi.
Tetapi sikap rendah hati ini bukan hanya dalam ibadat, khususnya dalam perayaan Ekaristi, tetapi juga kita laksanakan dalam perjamuan, pertemuan, pelayanan kita dalam hidup sehari-hari kepada sesama.
Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm
kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

buku Katekese terbaru dari Mgr. FX. Hadisumarta. O.Carm