H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm
Minggu Biasa XXIII /B/2012
Yes 35:4-7a Yak 2:1-5 Mrk 7:31-37
PENGANTAR
Dalam Bacaan I Nabi Yesaya dalam Perjanjian Lama memberi hiburan kepada bangsa Israel, yang telah dibebaskan dari pembebasan mereka dari Mesir. Ia berkata: “Telinga orang tuli akan dibuka, dan mulut orang bisu akan bersorak-sorai”. Apa yang dinubuatkan Nabi Yesaya dalam Perjanjian Lama itu menjadi kenyataan seperti diceriterakan dalam Injil Markus hari ini: “Yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berbicara”. Marilah kita dalam perayaan Ekaristi ini membuka pendengaran (telinga) kita untuk mendengarkan sabda Allah, dan menggerakkan lidah (mulut) kita untuk dapat meneruskan sabda Allah itu kepada orang lain.
HOMILI
Orang-orang sakit yang disebut dalam Injil adalah orang-orang yang kehilangan atau tidak mempunyai kondisi dan kemampuannya sebagai manusia secara utuh. Contoh orang berkekurangan, yang disebut dalam Injil hari ini adalah orang tuli dan orang bisu atau gagap. Keadaan atau status orang-orang yang sakit itu dipulihkan kembali oleh Yesus agar memiliki keadaan manusiawinya yang normal dan pantas.
Apa sebenarnya yang ingin disampaikan dalam Injil kepada kita dalam ceritera tentang pelbagai penyembuhan. Mukjizat bukan dilakukan Yesus sekadar guna menunjukkan kemampuan dan kekuasaan-Nya, melainkan sebagai suatu sarana untuk mewartakan dan melaksanakan Kabar Gembira, yakni keselamatan manusia seutuhnya.
Injil hari ini berceritera tentang telinga/pendengaran dan tentang lidah atau mulut / kemampuan berbicara. Pada umumnya dalam setiap orang mata / penglihatan adalah untuk menghubungkan kita dengan hal-hal sehari-hari yang tampak; sedangkan telinga / pendengaran menghubungkan diri kita dengan orang-orang lain. Dengan berbicara atau menyapa orang lain terjadi hubungan antar pribadi, antar orang yang satu dengan yang lain. Dengan mata kita dapat melihat apa yang tampak selama kita menghendakinya, tetapi dapat juga menghentikan penglihatan itu menurut keinginan kita sendiri. Misalnya bila kita membaca Kitab Suci, setiap kita dapat menutup mata kita dan berhenti membacanya. Tetapi lain halnya dengan telinga atau pendengaran kita. Bila tidak suka mendengar orang lain berbicara, kita tidak dapat menutup telinga kita begitu saja. Kita misalnya harus menutup telinga kita dengan tangan, atau kita meninggalkan ruang, di mana orang yang berbicara agar tidak mendengarnya. Betapa pentingnya dalam pergaulan antar manusia peranan kesediaan membuka pendengaran dan kesediaan berbicara satu sama lain.
Bila kita membaca Kitab Suci, sungguhkah kita mendengarkanapa yang dikatakan dalam KS itu? Kitab Suci sebenarnya minta kepada kita bukan untuk membaca, melainkan mendengarkan Sabda Allah. Harus ada orang lain yang membacanya, dan kita mendengarkan dan berusaha memahaminya. Mengapa? Iman alkitabiah tidak boleh bersifat individualistis, melainkan harus secara bersama, komunal, komniter, sebagai kelompok, atau komunitas. Bila mau berbicara dan mendengarkan dituntut agar orang-orang yang bersangkutan mau saling mendengarkan. Kesediaan saling menghormati dan saling mengalah adalah syarat mendasar untuk suatu komunitas. Kesediaan ini makin berlaku dalam hubungan kita dengan Tuhan!
Karena itu kalau ada orang yang tidak mau memenuhi syarat itu, satu-satunya yang dapat dilakukannya ialah meninggalkan tempat atau komunitas di mana ada orang berbicara, tetapi ia tidak mau mendengarkannya. Nah, inilah yang sering terjadi! Ada orang yang meninggalkan komunitasnya, mungkin Gereja, mungkin keluarganya atau mungkin kelompok kerjanya. Orang ini merasa mau berdiri sendiri, mau memimpin, mau supaya hanya kehendanyalah yang harus diikuti. Tak mau berhubungan dengan orang lain, tak mau mendengar pandangan orang lain. Hanya mendengarkan dirinya sendiri. Pada dasarnya sikap ini adalah individualisme, egoisme, kepentingan diri sendiri. Tidak komunikatif.
Tidak mau berkomunikasi dengan sesama, juga bisa terjadi terhadap Allah. Padahal sikap dasar untuk mendengarkan sabda Allah dan mengikuti apa yang didengarkan dari sabda Allah maupun suara orang lain, ialah kesediaan diri untuk mengakui otoritas Allah disamping juga mengakui martabat sesama manusia di hadapan Allah.
Penyakit tuli atau bisu yang diceriterakan dalam Injil hari ini adalah penyakit fisik, yang memang harus disembuhkan. Tetapi Injil hari ini mau juga menunjukkan kepada kita adanya penyakit tuli dan bisu rohani, spirtitual atau batin!
Kita bersyukur kepada Tuhan atas terus berkembangnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknik dewasa ini, antara lain di bidang komunikasi. Alat-alat teknis komunikasi sungguh dibutuhkan dan menolong. Namun benda-benda itu tergantung keberhasilannya, bahkan kegagalannya dari manusia-manusia yang menggunakannya. Betapapun tingginya kualitas alat teknis komunikasi itu, namun kualitas manusiawi, batin, rohani pribadi orang-orang yang menggunakan tuli dan bisu, namun apakah makna alat-alat modern itu semuanya?
Pesan Injil hari ini ialah, kita ajak menjaga agar pendengaran dan kemampuan kita untuk menyapa pribadi sesama kita dalam keadaannya masing-masing secara manusiawi, sama martabatnya seperti kita di depan Allah. Jangan sampai kita terkena penyakit tuli dan bisu rohani. Kita harus peka seperti Yesus.
Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.
kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm